Memaparkan catatan dengan label Sejarah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Sejarah. Papar semua catatan

Ahad, 23 Ogos 2009

AL-FATEH SUMBER KEMBARA JIWA KAUM MUDA


assalamualaikum dan salam ramadhan buat semua. dlm meniti ramadhan ini, moga kita terus bercita2 untuk jadi yg terbaik, hamba terbaik, pelajar terbaik, sahabat dan jiran terbaik, dan pelbagai lagi role yg terbaik. dlm kesibukan study dan tarbiyah, sy terbaca ttg program yg mengetengahkan Al-FAteh sbg role model bg kaum muda di UIAM PJ baru2 ini.

kupasan yg sgt menarik dan pelancaran program yg sgt berjaya. andai ramadhan ini kita bercita2 untuk jadi individu terbaik, bagaimana pula jika selepas ini kita bercita2 untuk jadi pemimpin terbaik. seperti dua UMAR yg mencalit kemegahan sejarah kepimpinan Islam. harusnya begitu. menjadikan para sahabat dan org soleh dlm segenap ruang kehidupan kita sbg role modal.

so lepas ni sy bercita2 mahu mempunyai ciri2 wanita yg solehah sperti KHADIJAH, isteri Rasullullah yg penyayang dan memberi semangat. seperti NUSAIBAH yg xgentar dlm berjuang, seperti ASMA', anak yg solehah dan sebagainya. insyaallah (^_^)

kamu apa pula?

serba sedikit ttg AL-FATEH..

seorang raja yg soleh dan tegas. sejarah membuktikan pemerintahan baginda adalah kreatif, energetik dan sgt Isalamik. baginda telah memimpin tentera nya dlm " MISSION IMPOSSIBLE" apabila KONSTANTINOPEL yg sudah lebih 800 TAHUN cuba untuk diambil dari org KRISTIAN. tentera baginda dan baginda sendiri telah di 'claim' sbg pemimpin dan tentera yg terbaik dlm sebuah hadith Rasulullah SAW.

moga semangat kita kaum muda terus membara selepas mengupas peribadi baginda buat memimpin dunia...
syukran ustaz rijal82 for this article..

SILA CLICK DI TAJUK..

Gelombang "F.A.T.E.H Values" Melanda UIAPJ

Isnin, 13 April 2009

URGENT! Ukhwah Kita Di Ambang Kemusnahan..

Assalamualaikum semua. artikel ni saya ambil dari seorang sahabat di Indonesi. "We AreMuslim"

semoga Allah merahmati beliau...


"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujuraat: 10).

Seorang muslimah Arab pergi ke pasar Yahudi bani Qainuqa. Ia mendatangi seorang tukang-sepuh untuk menyepuhkan perhiasannya. Muslimah itu bermaksud menunggu sampai selesai, tiba-tiba beberapa orang Yahudi datang mengerumuninya. Dengan nada mengejek, mereka meminta kepada si wanita untuk membuka purdahnya. Permintaan itu ia tolak mentah-mentah.

Namun, secara diam-diam, si tukang sepuh menyangkutkan ujung pakaian yang menutupi seluruh tubuh itu pada bagian punggungnya. Ketika si wanita berdiri, terbukalah aurat bagian belakangnya. Melihat pemandangan itu, orang-orang Yahudi bersorak riang. Si wanita pun menjerit meminta tolong.

Kegaduhan segera terjadi. Seorang mukmin yang kebetulan berada di lokasi segera bereaksi. Secepat kilat ia menyerang tukang sepuh dan membunuhya. Orang-orang Yahudi menjadi murka karenanya. Mereka balas mengeroyok si mukmin hingga terbunuh.

Insiden itu sebagai awal pengkhianatan Yahudi Qainuqa. Sebelumnya, mereka terikat perjanjian untuk hidup damai berdampingan dengan umat Islam. Nyatanya, kedengkian yang memuncak membuat mereka tidak bisa mengendalikan diri. Akibatnya, Rasulullah beserta para sahabat mengepung mereka selama beberapa hari. Mereka kemudian menyerah dan siap menerima hukuman sesuai nota perjanjian. Keputusunnya, mereke diusir dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota Madinah. Ini terjadi pada bulan Syawal tahun kedua hijriah, seperti diriwayatkan Ibnu Hisyam dalam Shirahnya.

Insiden ini menjadi sebuah peristiwa bersejarah. Ia bahkan menjadi pemicu bagi perubahan peta politik Madinah saat itu. Qainuqa mendapat keadilan dengan diusir dari Madinah. Meski ada faktor lain sebelum insiden ini, yaitu kedengkian kaum Yahudi atas kemenangan umat Islam di Badar. Seperti statement mereka ketika menyambut seruan Rasulullah:

"Wahai Muhammad, apa kamu mengira kami seperti kaummu? Janganlah kamu membanggakan kemenangan terhadap suatu kaum yang tidak mengerti ilmu peperangan. Demi Allah, seandainya kami yang kamu hadapi dalam peperangan, niscaya kamu akan mengetahui siapa sebenarnya kami ini." (Al-Buthy, Fiqhus Shirah).

Melihat harga diri saudaranya dilecehkan, begitu besar solidaritas seorang sahabat. Begitu juga kecintaan sahabat terhadap Islam, tidak sudi melihat ajarannya diolok-olok. Begitu besar keputusan yang ia ambil, yang berisiko kematian bagi dirinya. Ia mencintai karena Allah, Ia membenci karena Allah. Dalam Islam, membela kehormatan ('irdl) adalah sebuah kemuliaan.

"Barang siapa terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid, dan barang siapa yang terbunuh karena membela darahnya maka dia syahid, dan barang siapa terbunuh karena membela agamanya maka dia syahid, dan barang siapa terbunuh membela keluarganya maka dia syahid." (HR Tirmidzi dan Nasa'i).

Ubadah bin Shamith, yang memiliki persekutuan dengan Qainuqa, secara tegas menyatakan kepada Rasululullah saw.,

"Sesungguhnya aku memberikan loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin, dan aku melepaskan ikatan persekutuan dengan orang-orang kafir tersebut." (Al-Buthy, Fiqhus Shirah).

Apa yang melatarbelakangi sikap-sikap itu? Tak lain adalah cinta. Seperti perkataan Ibnu Qoyyim,

"Pangkal perbuatan dan pergerakan di alam ini adalah cinta dan keinginan. Cinta melahirkan pengorbanan. Cinta memunculkan rasa cemburu dan benci terhadap lawan yang dicinta. Karena itu, kata Rasulullah, Autsaqu 'urol iimaani alhubbu fillahi wal bughdhu fillahi (Ikatan iman yang paling kuat adalah kecintaan karena Allah dan kebencian karena Allah) (R Abu Dawud dan Ahmad). Benci dan cinta adalah setali mata uang.

Karena cintanya terhadap Islam, keimanan sang sahabat terusik manakala menyaksikan pelecehan terhadap saudara muslimahnya. Ubadah bin Shamit demikian juga langsung memutuskan hubungan perlindungan dengan mereka. Mereka ditautkan rasa solidaritas persaudaraan, karena sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Sikap mereka menggambarkan seakan mereka satu bangunan yang saling menguatkan, satu tubuh yang jika ada organ tubuh lain sakit, ia turut merasakannya, seperti pernyataan Rasulullah saw.,

"Permisalan orang mukmin dalam mereka saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menaruh simpati adalah laksana satu tubuh, yang jika salah satu dari anggota tubuh merasa sakit, seluruh anggota tubuh lainnya turut merasakan dampaknya dengan panas atau tidak bisa tidur." (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw. juga bersabda, "Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain laksana sebuah bangunan yang sebagaian yang lain dengan sebagian yang lainnya saling menguatkan." (HR Bukhari dan Muslim).

Antara lain karena hal Itulah, mengapa dalam Asy-Syarhul Kabir dijelaskan bahwa ketika seseorang mempunyai kelebihan makanan, sedangkan ia membiarkan orang lain kelaparan hingga mati, maka wajib atasnya membayar diyat (penebus) kematian dengan hartanya sendiri dan harta keluarga dekatnya. Itu jika ia tidak sengaja membiarkannya mati kelaparan, jika ia sengaja, maka ada perbedaan pendapat. Sebagian Ulama berpendapat ia harus membayar diyat dari hartanya sendiri dan tidak boleh dibebankan kepada keluarga dekatnya. Sebagian yang lain berpandangan ia harus diqishas.

Juga karena sebab ini, disebutkan dalam Al-Bahrur Ra'iq,

"Jika ada seorang muslimah di bagian timur ditawan musuh, maka wajib bagi kaum muslimin yang berada di bagian barat bumi untuk membebaskannya."

Cuplikan fatwa ini menggambarkan betapa solidaritas sesama mukmin merupakan hal yang sangat urgen dalam Islam. Muslim laksana satu bangunan yang saling menguatkan. Muslim laksana satu tubuh dan satu jiwa. Derita mereka derita kita, kesulitan mereka kesulitan kita. Jika seorang muslimah saja yang ditawan di belahan timur menjadikan wajib bagi muslimin di belahan barat untuk membebaskannya, maka bagaimana dengan ribuan muslimah yang tidak hanya ditawan, melainkan dianiaya, diperkosa, dibunuh seperti dialami muslimah Bosnia Herzegovina? Bagaimana pula dengan pembantaian yang menimpa muslim Afghanistan, Kasymir, Moro, Maluku, Poso, dan kini Irak?

Sebagaimana penilaian banyak pihak bahwa pemerintah Indonesia hanya basa-basi dalam menyikapi invansi AS ke Irak, penilaian serupa tertuju pada masing-masing pribadi, adakah dalam ukhuwah kita juga hanya berbasa-basi? Sudahkah solidaritas kita selama ini--apapun bentuknya--merupakan perwujudan maksimal dari apa yang kita miliki dan usahakan? Masing-masing kita yang mengetahui jawabannya. Nastaghfirullahal adhim. Wallahu a'lam. (Abu Zahrah)

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

 

cahayahatiku Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template